Pilpres; Satu atau Dua Putaran
Berdasarkan UU Pilpres maka pasangan calon presiden dan calon wakil presiden baru bisa langsung menang dalam satu putaran jika meraih suara 50% plus 1.
Selain itu pasangan capres dan cawapres tersebut juga harus memperoleh 20% suara di 17 provinsi. Jadi sebarannya juga menjadi salah satu persyaratan.
Beberapa pengamat politik mengatakan persyaratan itu agak sulit untuk dicapai oleh capres dan cawapres, sehingga kemungkinan pemilihan presiden Tahun 2009 akan sama seperti Tahun 2004 ketika pemilihan sampai memasuki tahap kedua.
Seperti yang diketahui maka 2 pasangan yang meraih suara terbesar akan mengikuti pemilihan presiden tahap kedua. Dan pada tahap kedua inilah pemenangnya ditentukan oleh suara terbanyak, terlepas dari berapapun selisih suara antara kedua pasangan.
Ada yang berpendapat pemilihan presiden 2 tahap itu tidak efisien mengingat sumber daya --biaya maupun personil-- yang dikerahkan untuk menggelar pemilihan. Oleh karena itu 1 tahap saja dianggap sudah cukup.
Namun sebagian kalangan berpendapat pemilihan 1 tahap bisa menghasilkan presiden dan calon presiden dengan tingkat keterpilihan yang tidak meyakinkan. Dan hal itu bisa membuat legitimasinya akan lemah serta mempengaruhi efektifitas kepemimpinan.
Tapi apa pendapat anda? Jangan lupa sertakan pula alasannya, serta nama dan kota asal anda.
Telah Diterbitkan:
Jun 18, 2009 9:03 AM GMT
Tambahkan Komentar
KOMENTAR
Jumlah Komentar:2
Semua komentar begitu masuk
Ditambahkan:
Jul 7, 2009 11:01 PM GMT
Lebih baik satu putaran, karena lebih cepat lebih baik. kalau satu putaran ibarat petinju menang KO jadi presidennya legitimit, tapi pemilu harus jurdil. Karena satu puturan dengan syarat jurdil akan banyak menghemat waktu, biaya, pikiran.
Budi, Kalianda
|
Ditambahkan:
Jul 7, 2009 5:21 AM GMT
Wacana satu putaran menyesatkan hanya karena berdalih penghematan, justru kalau mau penghematan hentikan cara-cara pilkada karena lebih banyak menguras uang negara maupun kandidat. Sebaiknya serahkan pada hasil pemilu apakah jadi satu putaran atau dua putaran, jangan percaya lembaga survai yang dibayar karena sama dengan dengan cendekiawan bayaran tak beda dengan pelacur
Dwi Budhi, Jakarta
|
Tambahkan Komentar
|
|